Menteri Perdagangan (baru) sekaligus Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan menjadi sorotan. Sebab, ia meminta penerima minyak goreng untuk memilih anaknya, Futri Zulya Savitri.

Futri merupakan pengurus DPP PAN dan calon legislatif PAN Dapil Lampung 1. Kunjungan Zulhas itu disorot karena memiliki dua kepentingan, yakni sebagai Menteri Perdagangan dan juga Ketua Umum PAN yang berkampanye mendukung putrinya.

“Uangnya enggak usah, dikantongin ajah. RP. 10.000 yang nanggung Futri. Kasih uangnya. Nanti pilih Futri, ada deh ginial dua bulan sekali,” kata Zulhas dalam video yang beredar.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi buka suara. Viva menjelaskan, peristiwa yang terjadi pada Sabtu (09/07) itu adalah di luar tugas Zulhas sebagai Menteri Perdagangan.

“Acara itu hari Sabtu, di mana para pegawai ASN di pemerintahan libur. Acara itu bukan acara pemerintahan atau kementerian, tetapi itu acara partai,” kata Viva seperti dikutip Jawapos.com, Selasa (12/07).

“Bang Zulkifli Hasan hadir selaku Ketua Umum PAN meninjau acara PAN, yaitu ‘PANsar Murah. Di acara itu Futri, putrinya hadir selaku pengurus DPP PAN dan Calon Legislatif PAN Dapil Lampung 1,” sambungnya.

Ramai-ramai Kritik Zulhas

Politikus Partai Gerindra Andre Rosiade mengatakan sebagai menteri baru hasil reshuffle kabinet, Zulhas mestinya memperbanyak prestasi bukan justru menambah kontroversi.

“Ini harus jadi pelajaran bagi Bang Zul agar fokus lagi bekerja. Karena sebulan jadi menteri yang ada kontroversi, bukan prestasi,” kata Andre.

“Itu yang kita tangkap sebulan ini. Reshuffle harusnya bisa jadi solusi bukan menimbulkan kontroversi,” sambungnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid menilai bahwa aksi Zulhas yang membagikan minyak goreng sambil kampanye putrinya itu tidak pantas. Jazilul mengingatkan agar Ketua Umum PAN itu tidak mengulangi hal serupa.

“Ya enggak pantas lah, dilihat publik enggak pantas, sebagai teman ingatkan saja Pak Zul,” kata Jazilul kepada wartawan.

Menurutnya, sebagai ketua umum partai politik, Zulhas memang boleh berkampanye. Namun, ia menyebut bahwa Zulhas juga harus menyadari bahwa saat ini posisinya merupakan menteri yang juga sebagai bawahan presiden.

“Mestinya tidak begitu ya, kalau bahasa Jawa ngono ya ngono, tapi ojo ngono. Artinya jangan keterlaluan, Kami melihat ketum partai memang boleh berkampanye, tapi ya jangan begitu banget,” kata Jazilul.

Senada dengan politikus lainnya, Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI Mulyanto menyatakan bahwa tindakan Zulhas tidak etis. Langkah itu merupakan tindakan yang tidak baik untuk menjadi contoh bagi publik.

“Ini contoh yang tidak baik bagi publik dalam kerangka good governance. Dukungan publik kepada pemerintah akan lemah kalau ini terus dilakukan,” kata Mulyanto kepada wartawan, Selasa (12/07).

Mulyanto meminta Zulhas sebaiknya fokus mendistribusikan minyak goreng ke daerah remote, khususnya wilayah Indonesia bagian timur yang selama ini tidak terjangkau minyak goreng curah.

“Keunggulan migor Minyakita, yang terkemas secara sederhana tersebut, adalah dapat disimpan lebih lama dan dengan jangkauan distribusi yang luas. Mendag jangan mendistribusikannya di wilayah yang justru mudah terjangkau migor curah biasa. Ini kan tidak konsisten,” ujarnya.

Partai Demokrat juga kritik tindakan Zulhas, politikus Demokrat Kamhar Lakumani menyatakan bahwa langkah Zulhas memalukan karena sangat tidak patutu dilakukan oleh seorang menteri.

“Membagi-bagikan minyak goreng yang saat ini menjadi komoditi sensitif yang tengah ditangani Kemendag disertai ajakan untuk memilih puterinya tentunya hal yang memalukan dan tidak patut bagi seorang pejabat negara apalagi Mendag. Ini sangat disayangkan,” katanya.

Zulhas seharusnya fokus pada harga tandan buah sawit yang anjlok sampai kurang dari Rp. 1000 per kg.

“Ini sangat memukul petani sawit. Menjadi ironi ketika harga minyak goreng dan minyak sawit dunia sedang tinggi namun petani malah merugi,” pungkas Kamhar.

Share.
Leave A Reply