Dalam kurun waktu empat bulan lebih, lonjakan harga minyak goreng di dalam negeri melesat tak terkenali. Sejak dua bulan terakhir, minyak goreng juga berkontribusi besar terhadap inflasi.

Sebuah ironi terjadi di negeri sendiri, kaya akan sawit, tapi mencari minyak goreng sulit. Padahal, pasokan minyak sawit Indonesia selalu melimpah. Di sisi lain, masyarakat dipaksa untuk membeli minyak goreng di harga impor.

Pemerintah menggulirkan berbagai pengendalian harga minyak goreng dalam negeri. Sepanjang Januari-Februari 2022, harga rata-rata nasional berangsur turun, tapi harga minyak goreng masih relatif tinggi setidaknya masih di atas ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Gelontoran dana subsidi 3,6 triliun untuk penyediaan minyak goreng murah menjadi seharga Rp 14.000 per liter. Apa yang terjadi? Belakangan, minyak goreng murah hasil subsidi pemerintah itu malah menghilang dari pasaran dan sulit didapatkan. Kini, minyak goreng menemui babak baru: kelangkaan baik di ritel modern maupun pasar tradisional.

Permainan politik?

Pakar Teknik Pertanian Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf mengatakan bahwa kelangkaan minyak ini diduga adanya permainan politik. Menurutnya, jika harga minyak murah, seharusnya masyarakat tidak susah untuk mendapatkan minyak.

“Saya kira ini kemungkinan ada cerita politik, menurut saya aneh jika di negara yang begitu banyak sawit bisa langka minyak itu adalah hal yang aneh,” ucapnya dilansir TribunMedan.com, Sabtu (19/2/22).

Menurutnya, mesikpun harganya mahal atau murah minyak tidak akan langka jika tidak ada permainan politik.

“Negara Indonesia khususnya Sumut terkenal dengan perkebunan sawit yang banyak, seharusnya jika harga mintak murah itu malah semakin banyak minyak yang dijual,” katanya.

Abdul mengatakan bahwa lagkanya minyak goreng saat harga turun adalah lazim dalam permainan dunia bisnis.

“Itu hal lazim, karena ketika bawang merah, cabai atau apapun itu yang menjadi bahan pangan masyarakat mau turun atau naik pasti menjadi langka,” ujarnya.

Aturan pemerintah dalam penurunan harga minyak goreng menjadi Rp 14 ribu merupakan alasan yang kurang tepat yang menjadi penyebab minyak menjadi langka.

Minyak gaib

Tim Satgas Pangan Provinsi Sumatera Utara menemukan adanya tumpukan minyak goreng yang tidak diedarkan dan hanya disimpan di dalam gudang.

“Hari ini kita melihat faktanya didapat stok minyak goreng yang siap dipasarkan sekitar 1,1 juta kilogram minyak goreng bertumpuk di gudang,” kata Kepala Biro Perekonomian Pemprov Sumut Naslindo Sirait, Jumat (18/2/22).

Dugaan penimbunan juga terjadi di Pringsewu, Lampung. Satpol PP, Disperindag dan DPRD Pringsewu melakukan inspeksi mendadak di Indomaret jalan Jenderal Sudirman, Pringsewu.

Dalam sidak itu, ditemukan adanya persediaan mintak goreng 66 liter yang terdiri dari 32 stok toko Jenderal Sudirman dan 22 liter stok toko Ahmad Yani. Namun, saat itu belum diambil toko yang bersangkutan dan stok baru datang 12 liter. Isu Indomaret melakukan penimbunan minyak goreng pun muncul.

Abdul meminta agar pemerintah bertindak tegas dan memberikan sanksi kepada spekulan atau pengusaha yang melakukan penimbunan minyak goreng.

“Itu ada sanksi dalam perundang-undangan perdagangan baik untuk si spekulan, penimbun dan yang menjual harga di atas HET,” pungkasnya.

Share.
Leave A Reply