Sinyal koalisi beberapa partai politik untuk menghadapi Pilpres 2024 semakin menguat. Lobi-lobi politik dengan bungkus silaturrahmi kerap dilakukan oleh beberapa pentolan partai. Meskipun 2024 masih dua tahun ke depan, namun euforianya sudah berasa mulai dari sekarang.
Pertemuan Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartanto dengan Zulkifli Hasan dan Suharso Monoarfa tadi malam di Rumah Heritage Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (12/05) menjadi sorotan. Sinyal ‘nongkrong’ yang tidak biasa ini dinilai sebagai lobi-lobi politik dalam rangka pembentukan koalisi partai untuk menghadapi Pilpres 2024, meskipun belum diketahui pasti siapa yang akan diusung.
“Untuk menambah beringin, surya alam dan baitullah. Jadi kalau pohon beringin harus disinari oleh matahari, dia akan menjadi hijau. Dan kalau sudah tumbuh, kita sama-sama membangun dan melanjutkan, mendapatkan ridha Allah,” kata Airlangga Hartanto.
Sebelumnya, pada 7 Mei 2022, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyambangi kediaman Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartanto dan kedua belah pihak sudah mengklaim membuka pintu untuk berkoalisi.
“Kebersamaan Golkar dan Demokrat sudah ada pengalamannya, jejak rekamnya. Golkar dulu mendukung penggagas dan kader utama Partai Demokrat, Bapak SBY, selaku Presiden RI ke 6,” kata Airlangga melalui siaran pers Partai Demokrat, Sabtu, 7 April 2022.
Tak hanya itu, Airlangga juga sebelumnya pernah bertemu dengan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh pada 22 Maret 2022 silam.
Siapa yang diusung?
Silaturahmi politik yang dilakukan Airlangga kepada ketum partai lain dinilai sebagai upaya pembentukan koalisi. Lantas siapa yang akan diusung untuk menjadi Capres-cawapres?
Jika Airlangga dipasangkan dengan AHY, melihat elektabilitas keduanya diberbagai lembaga survey yang belum memuaskan menjadi halangan. Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayotno menjelaskan bahwa Golkar dan Demokrat memang memiliki sejarah bekerja sama. Hanya, pada Pilpres 2014 dan 2019, keduanya memilih jalan masing-masing.

“Kawan-cerai dalam politik elektoral kita perkara biasa. Dulu Golkar dan Demokrat sempat berkongsi. Tapi di Pilpres 2014 dan 2019, keduanya memilih jalan masing-masing,” ujar Adi kepada wartawan, Sabtu (07/06).
“Publik berharap duet Airlangga dan AHY bisa terwujud sebagai capres alternatif demi mengurangi resistensi pembelahan cebong dan kadrun yang belakangan ini mulai mengeras. Cuma problemnya, secara kalkulasi politik elektabilitas keduanya masih rendah, belum masuk 3 besar. Tentu ini bisa menjadi kendala psikologis koalisi. Karena maju pilpres tentunya untuk menang bukan untuk coba-coba,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Pemenangan Pemilu Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia mengatakan partainya tetap konsisten untuk mengusung Airlangga Hartanto menjadi calon presiden di pemilu 2024.
“Sampai sejauh ini, saya sebagai wakil ketua umum bidang pemenangan pemilu di DPP melihat karena memang momentumnya semakin dekat jadi semakin serius kerja yang dilakukan jajaran partai,” kata Doli di DPP Partai Golkar, Jakarta Barat.
Doli tidak menampik hasil sejumlah survei yang menunjukkan elektabilitas Airlangga masih rendah, tetapi Golkar punya mekanisme sendiri untuk menilai kerja partai dan jajaran.
“Responnya itu kan kita yang merasakan. Sejauh ini kami masih optimis dengan waktu yang masih ada sampai 2024 dan kami melihat bahwa seluruh jajaran partai makin hari semakin tinggi motivasi dan semangat kerjanya. Itu membuat kami semakin optimis untuk tetap menatap Pilpres kita punya capres sendiri Pak Airlangga Hartanto,” kata Doli.
