Manokwari – Penjabat Gubernur Papua Barat Komjen Pol (Purn) Drs. Paulus Waterpauw membeberkan hasil kesepakatan mengenai Ibukota Papua Barat Daya (PBD) yang terletak di Aimas. Paulus menuturkan, bahwa Aimas merupakan kota induk yang memiliki posisi strategis.
“Aimas merupakan kota induk dan memiliki posisi yang strategis atau berada di tengah-tengah, dan aksesnya yang lebih dekat dengan Kabupaten Tambrauw, Maybrat, Kota Sorong, dan Kabupaten Sorong Selatan,” ujar Paulus Waterpauw seperti dilansir PapuaStar.com, Senin, (10/10).
Pria kelahiran Fakfak ini menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan resmi dari pemerintah pusat mengenai penetapan Ibukota Papua Barat Daya. “Kita menunggu saja mana yang menjadi keputusan, kita tetap loyal untuk melaksanakan tugas dengan baik dan (penuh) tanggung jawab,” ujar Paulus.
- Menuju Ajang ASEAN, BlueScope dan IAI Buka Pendaftaran Indonesia Steel Architectural Award 2026
- FORTUNE Indonesia Summit 2026 Kembali Digelar Jadi Forum Pengambil Keputusan Bisnis
- Penertiban Konsesi Korporasi di Sumatera Harus Diikuti Langkah Pemulihan Hak Rakyat Atas Tanah
- Ironi Wacana Pengangkatan Status PPPK Pegawai SPPG Di Tengah Status Guru Honorer
- Retro-Politik: Ketika Pilkada Hendak Kembali ke Setelan Pabrik
Salah satu pertimbangan pemilihan Kabupaten Sorong sebagai Ibukota Papua Barat Daya adalah Kabupaten Sorong merupakan kota tertua yang melahirkan kabupaten-kabupaten di Sorong Raya. Seperti Kabupaten Sorong yang didominasi oleh Orang Asli Papua (OAP).
“Pemerintah Kabupaten Sorong telah menyiapkan lahan kurang lebih 500 hektare untuk kepentingan pembangunan infrastruktur untuk fasilitas yang menunjang Papua Barat Daya,” tambah Paulus.
“Kita memiliki dukungan yang cukup kuat mulai dari tokoh masyarakat, adat, agama maupun tokoh perempuan mereka sangat mendukung. Jadi, kami membuat naskah akademik bagaimana untuk menelaah sebuah provinsi dengan ibukotanya kita lampirkan, tergantung nanti keputusannya,” pungkas Paulus.
