Gelitik Politik – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang awalnya digadang-gadang bisa bikin anak bangsa sehat nan cerdas, malah makin sering masuk headline karena… keracunan massal. Iya, gratisnya sih enak, tapi efek sampingnya bikin warga “lari kenceng” ke toilet.
Menurut catatan Badan Gizi Nasional (BGN), sejak Januari sampai 22 September 2025, udah ada 4.711 kasus keracunan gara-gara MBG. Paling banyak? Ya tentu saja di Pulau Jawa, pusat keramaian dan, tampaknya, pusat keracunan juga.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, ngaku penyebabnya klasik: mulai dari dapur umum (alias Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi/SPPG) yang masih kagok masak porsi massal, sampai supplier bahan baku yang “ngeganti” mendadak. Intinya, bukan cuma nasinya yang ganti, tapi nasib warganya juga ikut terganti: dari sehat jadi merintih.
“Target kami itu nol kasus KLB (Kejadian Luar Biasa),” kata Dadan.
Ya, target boleh nol, tapi grafik kasus malah kayak lagi main roller coaster naik turun, tapi seringnya naik.
- Menuju Ajang ASEAN, BlueScope dan IAI Buka Pendaftaran Indonesia Steel Architectural Award 2026
- FORTUNE Indonesia Summit 2026 Kembali Digelar Jadi Forum Pengambil Keputusan Bisnis
- Penertiban Konsesi Korporasi di Sumatera Harus Diikuti Langkah Pemulihan Hak Rakyat Atas Tanah
- Ironi Wacana Pengangkatan Status PPPK Pegawai SPPG Di Tengah Status Guru Honorer
- Retro-Politik: Ketika Pilkada Hendak Kembali ke Setelan Pabrik
Data yang Bikin Ngeri
Kalau dirinci, BGN sampai bikin tiga wilayah buat ngitung:
- Wilayah I: 1.281 kasus. Dari 8 orang keracunan di Sumsel, sampai 503 siswa di Lampung.
- Wilayah II: 2.606 kasus. Nah ini juaranya! Dari Indramayu sampai Jogja, dari Bandung sampai Jakarta, korban bergelimpangan. Ada yang cuma 2 orang di Indramayu, ada juga yang sampe 480 orang di Pandeglang. Jawa emang nggak pernah kalah kalau soal jumlah.
- Wilayah III: 824 kasus. Dari Nunukan, Kupang, Sumba, sampai Banggai. Paling heboh? Banggai Kepulauan: 339 orang sekaligus. Bayangin rame-rame masuk IGD, mirip ngantri konser Coldplay.
Dari Gratis Jadi Tragis
Program MBG mestinya bikin masyarakat tenang, nggak bingung mikirin isi perut anak sekolah. Tapi kalau tiap bulan ada ribuan yang keracunan, apa jangan-jangan singkatannya berubah jadi “Makan Bikin Gawat”?
Kalau dapurnya masih coba-coba, bahan bakunya sering ganti supplier, dan pengawasan cuma sebatas konferensi pers, jangan heran kalau angka kasus lebih cepat naik daripada gizi masyarakatnya.
Gratis sih boleh, tapi jangan sampai jadi tragis. Karena kalau tiap suapan bikin panik, yang kenyang bukan perut warga, tapi headline media.
