Gelitik Politik – Jakarta, kota di mana macet udah kayak udara—selalu ada, nggak bisa dihindari. Tapi belakangan, ada satu suara tambahan yang bikin kepala makin cenat-cenut: suara sirene pengawalan. Iya, itu bunyi tot tot wuk wuk yang sering bikin jalanan mendadak jadi milik “orang penting”.

Kalau cuma ambulans atau mobil pemadam kebakaran sih, warga paham. Namanya juga darurat. Tapi kalau cuma mau rapat, jemput istri, atau sekadar buru-buru pulang kantor, warga mulai bertanya: kenapa hak jalan lancar seolah cuma milik pejabat?

Warga Mulai Gerah

Naufal (31), pengusaha asal Jakarta Barat, udah bosan jadi korban tot tot wuk wuk.

“Lagi panas-panas, macet, terus bunyi itu kedengerannya puyeng banget, bikin emosi aja. Kita kan sama-sama bayar pajak, masa iya harus minggir cuma buat pejabat yang mau rapat?” katanya dengan wajah keki.

Dwi (40), karyawan swasta yang tiap hari jadi pejuang transportasi umum, juga ikutan misuh.

“Kalau ambulans, pemadam, itu beda cerita. Kita paham. Tapi kalau cuma buat rapat, plis deh. Kita juga pekerja, kita juga buru-buru. Masa haknya beda?” ujar Dwi dilansir Kompas.com.

Sementara itu, Tami (39), warga lain, nemuin fenomena yang lebih absurd. Katanya, bukan cuma pejabat yang sok-sokan pakai sirene, tapi juga rakyat biasa.

“Ada tuh konvoi nikahan pakai strobo, sirene. Bahkan mobil pribadi ada yang pake. Itu kan jelas melanggar aturan. Polisi harusnya tindak, jangan cuma pura-pura budek,” ujarnya.

Sirene Jadi Simbol Privilege

Di titik ini, sirene bukan lagi identik dengan “ada yang darurat”, tapi dengan “ada yang merasa lebih penting”. Simbol privilege di jalan raya. Bedanya, kalau orang biasa telat, bos paling marah. Kalau pejabat telat, negara bisa jadi ikut ngegas.

Padahal, fasilitas negara itu dibiayai dari pajak rakyat. Mobil dinas, bensin, sampai sirene itu sendiri, semuanya bukan dari kantong pejabat, tapi dari masyarakat yang tiap bulan dipotong gaji. Ironisnya, rakyat yang nyumbang biaya malah harus minggir di jalan.

Lahirnya Gerakan Stop Tot Tot Wuk Wuk

Muak dengan kondisi ini, netizen akhirnya bikin gerakan digital dengan tagar #StopTotTotWukWuk. Nama yang lahir dari bunyi khas sirene, tapi berubah jadi simbol protes.

Poster-poster satir bertebaran di media sosial. Ada yang nulis:

“Pajak kami ada di kendaraanmu. Stop berisik di jalan Tot Tot Wuk Wuk!”

Ada juga stiker digital bergambar mobil dinas dengan tulisan nyeleneh: “Buru-buru rapat bukan keadaan darurat.”

Gerakan ini berkembang cepat, terutama di kalangan anak muda. Mereka bikin meme, karikatur, sampai video parodi yang menampilkan mobil pengawalan ditebengin suara dangdut koplo biar lebih absurd.

Rakyat: Tolong Jangan Main Sirene Sembarangan

Intinya jelas: rakyat bukan anti-aturan, tapi anti-penyalahgunaan. Ambulans boleh lewat, mobil pemadam wajib dikasih jalan. Tapi kalau cuma alasan “pejabat telat rapat” atau “konvoi hajatan”, sirene lebih terasa sebagai simbol kesewenang-wenangan ketimbang kepentingan publik.

Warga Jakarta sepakat: tot tot wuk wuk udah jadi suara ketidakadilan. Dan lewat gerakan ini, mereka minta pemerintah dan aparat menegakkan aturan. Kalau nggak, bisa-bisa sirene bukan lagi bikin orang minggir, tapi bikin warga tambah muak.

Karena, di jalanan yang udah semrawut, suara tot tot wuk wuk bukan lagi tanda darurat, tapi tanda: “Hati-hati, ada privilege lewat!”

Respon Polri: “Sementara Kami Bekukan”

Kritikan publik yang makin kencang akhirnya bikin Polri buka suara. Kepala Korps Lalu Lintas Polri, Inspektur Jenderal Agus Suryo Nugroho, ngumumin bahwa penggunaan strobo dan sirene buat pejabat di lingkungan Korlantas dibekukan sementara.

“Korlantas sementara kami bekukan. Semoga tidak usah harus pakai tot.. tot.. lagi, lah,” kata Agus di Mabes Polri, Jumat (19/9/2025).

Agus bahkan berterima kasih kepada masyarakat yang udah bersuara. Menurutnya, kritik publik jadi bahan evaluasi penting. “Kami evaluasi, biar pun ada ketentuannya kapan menggunakan sirene termasuk tot.. tot..,” tambahnya.

Dengan kata lain, Polri janji bakal ngerem dulu penggunaan sirene sembarangan, sambil nyusun aturan yang lebih jelas biar nggak semua orang bisa asal bunyi di jalan.

Share.
Leave A Reply