Andika Perkasa yang sebelumnya duduk sebagai Kepala Staff Angkatan Darat (KSAD) digembar-gemborkan akan menggantikan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto yang akan memasuki masa pensiunnya pada 8 November 2021.

Proses kilat pengiriman nama calon tunggal yang Istana klaim sebagai ‘surprise’ dan digelar proses fit and proper test pada 2 hari setelahnya, lalu langsung disetujui oleh DPR dalam agenda Rapat Paripurna DPR RI Senin, 8 November 2021.

Jalan mulus Andika bisa dibilang karena ada kedekatannya dengan Hendropriyono, sang mertua. Laporan The Washington Post tentang jaringan-jaringan asing yang dibina dinas Intelijen Amerika (CIA) dalam perang melawan teror ini menguatkan dugaan tersebut.

Dilansir tirto.id, dalam laporan itu disebutkan Hendro melakukan “pertukaran” dengan George Tenet, Direktur CIA kala itu. Entah apa yang diminta Tenet, tetapi Hendropriyono meminta bantuan dana untuk mendirikan sekolah intelijen di Batam –yang sampai sekarang mangkrak, dan membantu kerabatnya yang bermasalah pada nilai akademis di Amerika. Made menduga kerabat yang dimaksud adalah Andika Perkasa.

Dugaan serupa disampaikan analis militer Aris Santoso, kenaikan pangkat daripada Andika tak lepas dari peran Hendropriyono. Untuk jabatan Jenderal, rata-rata prajurit Angkatan Darat memang mempunyai rekam jejak yang setara.

Saat tentara sudah di pangkat Letnan Jenderal, kata Aris, maka yang menentukan hanyalah “nasib baik.” Yang dimaksud dengan nasib baik adalah koneksi dengan pemerintahan yang sedang berkuasa. Dalam kasus ini, Aris menilai pengaruh Hendropriyono pada Jokowi untuk mendaulat Andika sebagai KSAD masih sangat kuat.

Kontroversi Sang Panglima Baru

Sedikitnya sebanyak 14 lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan menolak Andika sebagai Panglima TNI.

Peneliti Imparsial Hussein Ahmad menilai penunjukan Andika bermasalah karena ia dinilai memiliki jejak gelap terkait dugaan pelanggaran HAM. Andika pernah dikaitkan dengan pembunuhan tokoh Papua, Theys Hiyo Eluay 2001 silam.

“Pemberitaan yang mengaitkan nama Andika Perkasa dalam kasus pembunuhan tokoh Papua Theys Hiyo Eluay harus ditanggapi secara serius,” kata Hussein Ahmad dalam keterangan tertulisnya, dikutip dari CNNIndonesia, Rabu (3/11)

Hussein menilai keputusan Jokowi memilih Andika mencerminkan sikap mantan wali kota Solo tersebut yang tak berkomitmen dengan penegakan HAM. Ia pun mendesak Komnas HAM menguji peran Andika dalam pembunuhan Theys Eluay.

Hussein dan koalisi LSM juga menyoroti harta kekayaan Andika yang dinilai fantastis. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), kekayaan Andika mencapai Rp179,9 miliar. Sejumlah tanah Andika dalam bentuk hibah tanpa akta.

“Terlebih lagi Jenderal Andika Perkasa disebut belum pernah melaporkan LHKPN sebelumnya padahal kapasitas yang bersangkutan adalah pejabat tinggi negara,” tutur Hussein.

Bukan hanya itu, dalam riwayat pendidikannya, Andika tercatat pernah mengenyam pendidikan di National War College (NWC) di Fort McNair, Washington D.C, Amerika Serikat. Dikutip dari situs Deutsch Welle, pada 2005 silam, editor The Washington Post, Dana Priest melaporkan tentang program dinas rahasia AS, CIA.

Program ini untuk mengamankan kerja sama dengan berbagai dinas intelijen di berbagai negara dalam perang melawan teror, termasuk dengan BIN. Saat itu, mertua Andika, yaitu Hendroprioyono sebagai kepala BIN disebut mengajukan permintaan spesial kepada George Tennet, Direktur CIA. Permintaan itu adalah menyediakan modal awal untuk pembangunan sekolah intelijen di Batam dan menjamin seorang kerabatnya mendapat tempat di universitas terkemuka AS.

Penulis: Mira Chrisnanda, Editor: Amrul Haqq

Share.
Leave A Reply