Cianjur diguncang gempa 5.4 skala richter dengan kedalaman 10km pada Senin (21/11) Pukul 13.24 WIB. Gempa bumi ini terasa hingga daerah Bogor, Sukabumi dan beberapa wilayah di Jawa Barat bahkan sampai DKI Jakarta. tercatat hingga selasa sore korban meninggal mencapai 268 orang meninggal dan ribuan orang luka-luka.

Kepala BMKG Dwikorita mengungkapkan gempa bumi di Cianjur diduga karena pergerakan sesar cimandiri.

“Diduga ini merupakan pergerakan dari Sesar Cimandiri, jadi bergerak kembali,” ungkapnya.

Menurut penjelasannya gempa di Cianjur terjadi karena patahan cimandiri geser sehingga mengakitbatkan gempa berkekuatan 5.6 skala richter.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan beberapa wilayah di Jawa Barat, termasuk Cianjur, merupakan dalam kawasan seismik aktif dan kompleks yang menyebabkan rawan dan sering terjadi gempa. Daerah seismik aktif meliputi Sukabumi, Cianjur, Lembang, Purwakarta dan Bandung yang masuk wilayah sesar cimandiri, sehingga akan lebih sering terjadi gempa dangkal yang mana berpotensi sangat merusak.

“Jadi kompleksitas tektonik ini memicu, berpotensi memicu terjadinya gempa kerak dangkal atau shallow crustal earthquake, fakta tektonik semacam ini menjadikan kawasan tersebut menjadi kawasan rawan gempa secara permanen, dan dengan karakteristik gempa kerak dangkal atau shallow crustal earthquake ini,” katanya.

Dia menambahkan bahwa karakteristik gempa dangkal atau yang disebut dengan shallow crustal earth quake tidak harus berkekuatan besar, akan tetapi dengan kekuatan magnitudo 4-6 dengan kedalaman gempa sangat dangkal dari 10km hingga 15km sudah cukup merusak.

Selain itu, struktur bangunan di wilayah terdampak tidak memenuhi standar tahan gempa. Banyak sekali rumah yang dibangun tanpa mengindahkan struktur aman gempa karena menggunakan besi tulangan atau semen standar.

Lokasi permukiman penduduk yang berada di daerah tanah lunak juga menyebabkan resonansi gelombang gempa yang akhirnya mengamplifikasi atau memperbesar dampak getaran gempa. Belum lagi, di daerah perbukitan atau lereng, rumah-rumah penduduk mengalami kerusakan parah lantaran topografi wilayah tersebut tidak stabil.

Dalam sejarahnya, daerah-daerah di sekitar sesar cimandiri kerap diguncang gempa, termasuk yang berkekuatan besar. Beberapa gempa yang dampaknya sangat merusak misalnya terjadi pada tahun 1844, 1879, 1910, dan 1912.

Kemudian, sejak penggunaan seismograf, tercatat pada tahun 1969 terjadi gempa bermagnitudo 5,4 di kawasan tersebut yang menimbulkan banyak korban dan kerusakan. Lalu, pada 1982 terjadi gempa bermagnitudo 5,5 dengan 7 korban luka dan banyak rumah rusak. Kemudian, pada Juli tahun 2000 terjadi gempa bermagnitudo 5,4 dan 5,1 yang mengakibatkan lebih dari 1.900 rumah rusak. Setelahnya, sempat terjadi beberapa kali gempa besar hingga yang terbaru pada 21 November 2022 yang dampaknya juga sangat merusak

Share.
Leave A Reply