GelitikPolitik.com, Maruarar Sirait, politikus senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) hengkang dari partai yang membesarkannya. Hal ini kemudian menyisakan tanda tanya besar mengenai kondisi psikologis kader muda partai banteng.

Maruarar bertemu dengan Ketua Fraksi PDIP DPR RI Utut Adianto dan Rudianto Tjen. Ara menyampaikan ucapan terima kasih kepada Megawati Soekarnoputri yang mengizinkannya berbakti untuk negara lewat PDIP.

“Saya mohon maaf, saya mengajarkan kalian untuk loyal tetap bersama PDI Perjuangan, tetapi izinkanlah dengan keterbatasan, saya pamit,” ujar Ara di kantor DPP PDIP, Jakarta, Senin (15/01).

Ara mengaku akan mengikuti langkah Presiden Joko Widodo. Menurutnya, Jokowi adalah sosok pemimpin yang sangat dipercaya oleh rakyat Indonesia.

“Jadi saya memilih bersama dengan Bapak Jokowi dalam pilihan politik saya berikutnya ke depan. Mohon doa restunya. Semoga PDI Perjuangan mendapatkan kader yang lebih baik, lebih loyal, lebih profesional, dan lebih berkualitas dari saya, mohon pamit, merdeka,” ujar Ara.

Bukan hanya Ara, yang memilih angkat kaki dari PDIP. Sebelumnya, nama Budiman Sudjatmiko sudah hengkang lebih dulu meskipun dengan status dipecat.

Di sisi lain, mundurnya Maruarar atau Ara seolah mempertegas adanya ketidakpuasan kelompok muda terhadap kepemimpinan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri yang selama ini dikenal menjalankan praktik demokrasi terpimpin.

Pukulan telak untuk PDI-P?

Direktur Eksekutif Institute of Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic), Ahmad Khoirul Umam menilai bahwa keputusan mundur Maruarar Sirait merupakan pukulan telak bagi PDIP. Khoirul menilai bahwa selama ini Ara tidak hanya menjadi simbol politisi muda PDIP yang cerdas, tapi juga simbol regenerasi ideologis.

Karena memang, Ara itu juga merupakan putra politisi senior PDIP Sabam Sirait yang notabene adalah orang yang loyal terhadap Megawati dan ideologi partai.

“Mundurnya Maruarar menegaskan terjadinya faksionalisme di internal kekuatan politik PDIP,” kata Khoirul dilansir Republika, Selasa (16/01).

Khoirul melihat dalam beberapa tahun terakhir, Ara tidak lagi diberikan ruang di PDIP. Hal itu karena dirinya dinilai sebagai kader yang kritis dan dinamis. Sedangkan karakter kepemimpinan PDIP selama ini dikenal sentralistik dengan menjaga praktik tradisi demokrasi terpimpin. Sehingga internal PDIP seolah tidak memberi ruang bagi para politisi muda yang kristis seperti Ara.

“Mereka yang kritis seolah terpinggirkan. Bahkan, hengkangnya Maruarar yang mengikuti langkah politik Budiman Sujatmiko, seolah mengonfirmasi bahwa hal itu dikonfirmasi oleh resistensi yang cukuup kuat dari elite PDIP pada Budiman dan Maruarar,” tambah Khoirul.

Khoirul menyebut langkah Ara dan Budiman ini harus menjadi peringatan serius bagi PDIP agar tidak terjadi ‘bedol desa’ lebih lanjut dari para politis muda PDIP untuk bergeser ke posisi seberang, khususnya di tim Prabowo-Gibran yang didukung penuh oleh Jokowi.

Share.
Leave A Reply