GelitikPolitik.com – Jakarta, Seorang anggota DPR viral melalui video yang beredar di sosial media atas ketidak setujuanya terhadap PT Kereta Commuter Indonesia yang akan melakukan impor kereta api bekas dari Jepang. Menurutnya, tidak ada urgensi dan situasi chaos hanya dimasa lebaran dan tahun baru saja.
Ditengarai bahwa anggota DPR itu adalah Dr. Evita Nursanty dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Namun, yang jadi masalah adalah dirinya salah paham lantaran yang sedang membahas adalah KRL (Kereta Rel Listrik) tapi dia malah membahas KAJJ (Kereta Api Jarak Jauh).
- Menuju Ajang ASEAN, BlueScope dan IAI Buka Pendaftaran Indonesia Steel Architectural Award 2026
- FORTUNE Indonesia Summit 2026 Kembali Digelar Jadi Forum Pengambil Keputusan Bisnis
- Penertiban Konsesi Korporasi di Sumatera Harus Diikuti Langkah Pemulihan Hak Rakyat Atas Tanah
- Ironi Wacana Pengangkatan Status PPPK Pegawai SPPG Di Tengah Status Guru Honorer
- Retro-Politik: Ketika Pilkada Hendak Kembali ke Setelan Pabrik
“Sekarang apa kita chaos? Kalau kita tidak impor ini barang apa kita chaos? Kita biasanya chaos itu di tahun baru, lebaran, ini kan sudah lewat semua ke-chaos-an kita, apa ini suatu urgensi kalau kita tidak impor?” tanyanya pada senin (27/03).
Eva juga mengatakan bahwa ini adalah bentuk kegagalan PT Kereta Commuter Indonesia dalam perencanaan dan menilai ini bukanlah alasan baru.
“Salahnya adalah daripada gagalnya dalam perencanaan, kalau bapak benar perencanaan bapak tidak akan terjadi hal ini, bapak itu kan seharusnya udah tahu nih berapa jumlah kereta yang bapak miliki berapa yang sudah tua, sudah tidak bisa dipakai lagi berapa jumlah kenaikan penumpang ini kan bukan data yang tiba-tiba. Ini bapak sudah miliki dan harusnya jadi tolok ukur buat bapak dalam membuat penyelenggaraan,” ujarnya.
“Kalau saya buka lagi, alasan impor kereta bekas ini itu sama aja, INKA-nya belum mampu, jadi dengan alasan yang sama itu dilakukan bukan alasan baru,” sambungnya.
Eva menyarakan kepada PT Kereta Commuter Indonesia untuk melakukan audit eksternal secara menyeluruh agar bisa menentukan jangka tahun kedepan dan mempunyai tolok ukur yang jelas.
Hal ini pun memantik beragam reaksi warganet. Dari yang menertawakan hingga mengkritik Evi lantaran dirinya tidak bisa membedakan antara KRL dan KAJJ. Commuter line atau yang disebut dengan KRL kini terancam kekerungan armada dikarenakan banyak armada yang sudah harus dipensiunkan.
Kendati demikian KAI sudah mendapatkan persetujuan Kementrian perhubungan namun ditolak oleh kementrian perindustrian dan belum mendapat ijin dari DPR. Dalam perencanaanya, KCI bekerja sama dengan INKA dalam pemenuhan armada gerbong kereta. namun INKA baru sanggup memenuhi permintaan KCI tahun 2025. Hal ini akan berdampak terancamnya 200.000 penumpang akan terlantar.
