GelitikPolitik.com – Seorang transpuan yang disapa dengan mami Vera, maju sebagai caleg di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, dalam Pemilu 2024.
Sepak terjangnya hingga dipillih menjadi caleg adalah hasil dari perjuangannya dimana dirinya menjadi ketua ketua komunitas Transpuan Perwakas (Persatuan Waria Kabupaten Sikka) berkat Mami Vera, citra transpuan dimata masyarakat berubah menjadi baik sehingga mereka bisa hidup berdampingan dengan masyarakat lainnya.
- FORTUNE Indonesia Summit 2026 Kembali Digelar Jadi Forum Pengambil Keputusan Bisnis
- Penertiban Konsesi Korporasi di Sumatera Harus Diikuti Langkah Pemulihan Hak Rakyat Atas Tanah
- Ironi Wacana Pengangkatan Status PPPK Pegawai SPPG Di Tengah Status Guru Honorer
- Retro-Politik: Ketika Pilkada Hendak Kembali ke Setelan Pabrik
- PO Proyek Ghaib ala Bupati Bekasi: Ketika Bapak-Anak Berakhir di KPK
Dikutip dari CNN Indonesia, Mami Vera diusung oleh Partai Amanat Nasional (PAN) dan terdaftar dengan nama Melkiades Mas Mangdare, seorang laki-laki berusia 47 tahun dengan nomor urut lima untuk pemilihan DPRD Kabupaten Sikka.
Mami Vera akan bertarung dengan caleg-caleg lainnya di daerah pemilihan 2, yang mencakup 6 kecamatan, yaitu Kecamatan Lela, Nele, Kewapante, Koting, Hewokloang, dan Kangae.
Awalnya dirinya kaget saat dipilih untuk menjadi caleg dan sempat tidak percaya, karena dia hanyalah seorang transpuan pasti akan ditolak.
“Mami sempat ragu di awal, mempertanyakan mengapa saya? Ketakutan saya bahwa, ih saya diterima tidak? Saya ikuti saja alurnya mau dibawa ke mana”, ujar mami Vera.
Banyak masyarakat Sikka yang belum mengetahui bahwa mami Vera maju menjadi caleg, tidak heran jika banyak orang yang kaget termasuk saudaranya. Mami vera memulai kampanye dengan mengunjungi keluarga untuk memberitahu bahwa dirinya nyaleg dan menurutnya, keluarga bisa membantu dalam hal kampanye.
“Saya kasih kartunya banyak ke mereka karena nanti mereka bilang akan membagikan lagi ke yang lain”. ucap mami vera.
Mami vera saat diusung menjadi caleg dirinya mengaku tidak punya banyak modal, karena selama ini dia menjalani hidup yang sederhana. Bahkan untuk baliho dan kartu saja difasilitasi oleh partai. Dan merasa engga jika harus sampai pinjam uang ke saudara dan kerabat untuk modal nyaleg.
“Saya kalau mau menggadaikan sertifikat tanah buat dapat Rp500 juta untuk kampanye sebenarnya bisa, tapi saya tidak mau. Nanti saya malah fokus memikirkan bagaimana uang itu kembali, daripada memikirkan rakyat,” ujarnya.
Meski begitu, dirinya tetap optimis bakal terpilih menjadi anggota legislatif di tahun 2024. Namun jika gagal dia akan tetap menerima dan dijadikan pelajaran untuk lima tahun kedepan bagaimana lebih bisa mengambil rasa empati keluarga dan masyarakat.
Menurut Philip Fransiskus, Ketua DPD PAN Sikka, alasan memilih Mami Vera sebagai kadernya adalah karena sering terlibat dalam berbagai acara dan kegiatan masyarakat, sehingga dinilai banyak masyarakat yang kenal dengan mami Vera dan bisa diterima oleh masyarakat.
“Mereka (para transpuan) bisa berdiskusi, tampil, dan terlibat dalam banyak acara. Katakanlah acara pesta, nikah dan segala macam, mereka juga hadir. Acara-acara itu kan menghadirkan jumlah orang banyak dan mereka hadir malah diterima dan bisa berbaur,” kata Philip.
Selan itu, latar belakang mami Vera sebagai ketua komunitas Transpuan di Kabupaten Sikka pun dianggap sebagai faktor pendukung karena dinilai mempunyai jiwa kepemimpinan. Dan ini adalah pertama kalinya transpuan mewakili partai tingkat kabupaten.
Dengan diusungnya mami Vera menjadi caleg di Kaputen Sikka pun tidak ada penolakan, kata-kata merendahkan maupun ujaran-ujaran kebencian. Malah banyak yang mendukung dan menerima. Berta Rosiana, 58 tahun, salah seorang warga dari kabupaten Sikka, mengatakan bahwa identitas Transpuan tidak masalah baginya, yang penting sebagai calon wakil rakyat harus mewakili dan membantu rakyatnya.
“Tidak masalah karena kami butuh orang Kecamatan Kangae supaya ketika kami butuh apa-apa ada orang yang mewakilkan, duduk di DPRD. Supaya kami masyarakat, mengeluh apa-apa, mereka dengar kami,” katanya.
